Selasa, Juni 13th, 2017

Kepribadian Islami di Bulan Ramadhan

 

Assalamu’alaikum Wr.WB

Hadirin, bpk/Ibu yang berbahagia

Salah satu yang kita dambakan dalam hidup ini adalah terwujudnya kehidupan yang baik berdasarkan nilai-nilai Islam. Sebagai agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), Islam memberikan perhatian yang begitu besar pada pembentukan pribadi, keluarga dan masyarakat yang Islami. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk memahani hakikat pribadi, keluarga dan masyarakat yang Islami.

PRIBADI ISLAMI

Kepribadian yang islami adalah pribadi yang bertaqwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Perasaan diawasi oleh Allah menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang muslim karena dengan demikian dia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah, hal ini karena setiap perbuatan manusia ada pertanggung-jawabannya dihadapan Allah, kebaikan dan keburukan yang dilakukannya untuk dirinya sendiri. Allah berfirman yang artinya:  Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk  maka petunjuk itu  untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka (QS 39:41).

Disamping itu pada ayat lain Allah juga berfirman yang artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya (QS 17:36).

Puasa dan seluruh peribadatan di dalam Islam melatih kita untuk selalu dalam pengawasan Allah, menghargai waktu, disiplin dan sebagainya, sehingga dari ibadah ini insya Allah akan kita capai perbaikan keislaman diri ke arah yang lebih baik dan terus menunjukkan ketundukan kepada Allah Swt hingga akhir hayat, Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS 3:102).

KELUARGA ISLAMI.

Keluarga Islami adalah keluarga yang anggota-anggota bukan hanya status keagamaannya sebagai muslim, tapi juga dapat menunjukkan keislaman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungannya kepada Allah Swt maupun dengan sesama anggota keluarga dan tetangganya. Dari sini akan terpancar sinar kemuliaan keluarga dalam kehidupan masyarakat, karena dari keluarga yang islami itulah akan terwujud nantinya masyarakat yang islami. Oleh karena itu menjadi penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki dan menata keluarga dengan sebaik-baiknya.

Dalam konteks bulan Ramadhan, memperbaiki keislaman keluarga bisa kita lakukan dengan lebih menkondisikan suasana pengamalan ajaran Islam dalam keluarga seperti tadarrus dan tadabbur (mengkaji) Al-Qur’an, sahur bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama yang disertai ceramah dan memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga karena suasana kumpul bersama keluarga di rumah pada bulan Ramadhan relatif lebih banyak sehingga tercipta keakraban dan keharmonisan hubungan antar keluarga yang berdampak sangat positif dalam upaya memperbaiki keislaman anggota keluarga.

Ramadhan boleh dikata sebagai momentum yang sangat baik untuk memperbaiki keislaman anggota keluarga. Misalnya anggota keluarga yang belum bisa membaca Al-Qur’an bisa kita kontrol dan kita tumbuhkan atau kita tingkatkan kemampuannya membaca Al-Qur’an, begitu juga dengan pemahaman dan pengamalannya. Memperbaiki keislaman keluarga merupakan tanggung jawab kita bersama, khususnya bagi seorang suami atau bapak, maka seorang bapak harus memperbaiki keislaman dirinya terlebih dahulu baru memperbaiki keislaman keluarganua. Keluarga harus kita islamisasikan karena azab Allah sangat pedih bagi siapa saja yang tidak bertaqwa kepada-Nya,  Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah  terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan  selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS 66:6)

MASYARAKAT YANG ISLAMI

Terwujudnya masyarakat yang berkepribadian Islami merupakan sesuatu yang sangat penting. Dengan terwujudnya masyarakat Islami, ketertiban, kedamaian dan ketenangan hidup akan sama-sama kita rasakan, bahkan hidup jadi terarah pada nilai-nilai kebenaran dan dapat kita kikis habis tindakan-tindakan yang maksiat atau paling tidak sangat kecil peluang manusia untuk melakukan kemaksiatan. Dari sini masyarakat akan memiliki harapan yang lebih besar terhadap masa depan yang cerah, tapi bila masyarakat tidak Islami, maka masa depan yang bahagia akan terasa suram. Allah Swt berfirman,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS 7:96).

Apabila manusia, baik secara pribadi maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah Swt, maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rizki yang diperolehnya cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupan. Disinilah letak pentingnya bagi kita mewujudkan masyarakat yang islami. Pertanyaan kita kemudian adalah seperti apa masyarakat Islami yang harus kita wujudkan itu.

Paling kurang ada empat ciri masyarakat Islami yang harus kita tegakkan. Pertama, masyarakat yang bersaudara antar satu dengan lainnya. Masyarakat yang tidak mempersoalkan orang asing atau pribumi, dikenal atau belum, penduduk asli atau pendatang, yang penting adalah ketaqwaannya kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya,

Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa  supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS 49:13).

Kedua, Masyarakat yang tidak mengenal konflik dan pertentangan, hal ini karena konflik dan pertentangan biasanya terjadi karena ada kesenjangan yang salah satunya adalah kesenjangan ekonomi dan masyarakat Islam tentu menunaikan zakat, infak dan shadaqah. Karena itu, dengan zakat yang ditunaikan secara baik, akan terjembatani jarak yang memisahkan antara yang kaya dengan yang miskin. Manakala konflik dan pertentangan antar sesama anggota masyarakat sudah bisa diatasi atau diselesaikan, niscaya masyarakat itu akan menjelma menjadi masyarakat yang kuat meskipun sebenarnya potensinya lemah, sedangkan masyarakat yang sebenarnya memiliki potensi yang besar tetap saja akan menjadi lemah bila masih saja mengembangkan konflik dan pertentangan, Allah Swt berfirman yang artinya,

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu  dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS 8:46).

Ketiga, masyarakat yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan termasuk dalam mencari kebutuhan ekonomi yang halal bagi diri dan keluarganya merskipun dengan susah payah dalam memperolehnya, Rasulullah Saw bersabda,

Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kaya bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kerbutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, masyarakat yang terhormat, yakni masyarakat yang memiliki izzah, kemuliaan atau harga diri, baik dalamn kaitan dengan mencari harta, melapiaskan keinginan seksual maupun dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia. Citra diri merupakan sesuatu yang selalu dijaga dan dipertahankan.

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa terbentuknya pribadi, keluarga dan masyarakat yang islami merupakan suatu kebutuhan bagi proses perwujudan kehidupan dunia yang aman, adil dan sejahtera. Semoga ada manfaatnya saya akhiri. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

 

Senin, Juni 12th, 2017

Menjadi Pemenang di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bapak/Ibu bahwa keberhasilan ibadah Ramadhan atau kemenangan ibadah ramadhan dalam bentuk terhapusnya dosa-dosa merupakan sesuatu yang abstrak, bukan sesuatu yang konkrit atau nyata. Oleh karena itu kita mesti memiliki tolok ukur keberhasilan ibadah Ramadhan dengan  ketaqwaan kepada Allah Swt yang meningkat. Ada beberapa indikasi yang bisa kita jadikan patokan untuk menilai diri; apakah ibadah Ramadhan kita berhasil atau tidak.

  1. Tauhid Yang Mantap

Untuk menunjukkan keberhasilan ibadah Ramadhan, maka kita akhiri Ramadhan dengan takbir, tahlil dan tahmid yang merupakan kalimat tauhid. Perintah ini memang terdapat dalam firman Allah yang artinya: Dan hendaklah kamu cukupkan bilangannya dan hendaklah kamu kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS 2:185)

Dengan demikian seorang muslim yang habis menunaikan ibadah puasa, maka dia memiliki tauhid yang mantap, dengan tauhid yang mantap itu dia selalu mengutamakan Allah Swt dan selalu terikat pada nilai-nilai yang diturunkan-Nya. Karena itu orang yang tauhidnya mantap, akan selalu menjalani kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah, mencintai Allah di atas segala-galanya serta tunduk dan taat kepada-Nya.

  1. Akhlak Yang Mulia

Ibadah Ramadhan telah mendidik kita untuk selalu berakhlak yang mulia, karenanya keberhasilan ibadah Ramadhan membuat akhlak atau moral yang tercela terkikis habis dari jiwa dan kepribadian kita masing-masing. Maka sesudah kita menunaikan ibadah Ramadhan, keberhasilan yang harus kita tunjukkan adalah dengan memiliki akhlak yang mulia. Kemuliaan akhlak suatu masyarakat akan membuat kehidupan berlangsung dengan aman dan sentosa serta penuh dengan berkah dari Allah Swt, dan sebaliknya akhlak yang tercela dalam suatu masyarakat akan membuat kehancuran, malapetaka dan laknat Allah Swt.

Oleh karena itu kita harus prihatin apabila masyarakat kita memiliki akhlak yang jelek. Kita tidak punya masa depan yang cerah kalau generasi muda memiliki akhlak yang rusak, karena apa yang bisa diharapkan lagi kalau generasi harapannya menjadi hancur. Kehidupan kita juga akan sengsara kalau orang-orang tua dan para pemimpin memiliki akhlak yang jelek, karena kejelekan akhlak mereka membuat arah kehidupan menuju kehancuran yang menakutkan.

Dengan demikian, akhlak yang mulia harus kita tegakkan dan akhlak yang jelekkan harus kita kikis dan tidak kita beri tempat dan peluang untuk berkembang. Itu sebabnya kita amat prihatin kalau di negeri kita ini masih saja diberi tempat atau pasilitas dan kesempatan untuk mereka yang melakukan tindakan yang menggambarkan akhlak yang rusak dan merusakkan akhlak masyarakat.

  1. Semangat Menimba Ilmu

Aktivitas Ramadhan juga telah merangsang kegairahan kita untuk menimba ilmu pengetahuan, khususnya yang menyangkut pendalaman ajaran Islam. Kuliah subuh, kuliah zuhur, ceramah tarawih, pesantren Ramadhan dan studi keislaman lainnya di bulan Ramadhan merupakan aktivitas-aktivitas yang merangsang  semangat kita untuk menimba ilmu pengetahuan.  Aktivitas ini membuat kita tidak hanya lebih panatis sebagai seorang muslim, tapi juga paham dan memiliki wawasan keislaman yang lebih baik.

Namun perlu kita ingat bahwa sedalam-dalamnya ilmu yang kita gali, tetap saja terasa cetek dan sedikit ilmu yang kita peroleh, apalagi ilmu Allah itu sangat luas. Menyadari hal ini semestinya kita semakin terangsang untuk menimba ilmu dan sesudah Ramadhan ini, semangat itu harus kita buktikan.

  1. Semangat Memakmurkan Masjid

Ramadhan juga telah melatih kita untuk kembali ke masjid, kembali memakmurkan masjid, kembali beraktivitas di masjid. Itu sebabnya selama Ramadhan, kita rasakan masjid-masjid kita relatif lebih makmur, pengurus dan jamaahnya lebih aktif dan aktivitas lebih banyak dan bervariasi.

Berakhirnya Ramadhan tidak boleh membuat masjid kita kembali sepi, tanpa kepengurusan yang serius, tanpa jamaah yang aktif dan tanpa aktivitas. Oleh karena itu keberhasilan ibadah Ramadhan kita juga harus dibuktikan dengan selalu aktif memakmurkan masjid, mulai dari shalat berjamaah hingga mengatasi dan memecahkan persoalan umat dan mengatur strategi perjuangan meningkatkan kualitas umat. Seharusnya tiap kali seorang muslim ada di rumahnya, maka saat waktu shalat tiba dengan diperdengarkannya adzan, dia menuju ke masjid. Bahkan semestinya orang berpatokan bahwa si fulan tidak ke masjid dekat rumahnya dalam shalat berjamaah hanya karena  belum pulang alias tidak ada di rumah atau dalam keadaan sakit. Oleh karena itu semestinya bila seseorang ingin bertemu kita, maka dia cukup ke masjid dekat rumah lalu nanti bertemu di masjid itu untuk selanjutnya baru ke rumah dan bila kita tidak ada di masjid, itu artinya kita tidak ada di rumah atau ada tapi sedang sakit.

Hadirin Bapak/Ibu yang berbahagia,

Ada banyak contoh kasus dari kisah para sahabat yang menggambarkan betapa perhatian yang sedemikian besar dari mereka terhadap masjid. Sebut saja misalnya Abdullah bin Ummi Makhtum yang meskipun matanya buta dan rumahnya jauh dengan masjid, dia tetap datang ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah karena dia selalu mendengar panggilan adzan sebagaimana yang dianjurkan kepadanya.

Disamping itu sahabat Bani Salamah sebenarnya punya niat untuk pindah rumah ke dekat masjid agar bisa menunaikan shalat berjamah di masjid dengan mudah, maka Rasulullah menyatakan bahwa orang yang jauh rumahnya dengan masjid akan memperoleh pahala yang lebih besar karena langkahnya, maka Bani Salamah tak jadi pindah rumah ke dekat masjid karena ingin memperoleh pahala yang besar dan dia memang rajin ke masjid.

Oleh karena itu kita perlu merenungi diri kita masing-masing, sudah sejauhmana perhatian kita bterhadap pemakmuran masjid.

  1. Solidaritas Sosial yang Tinggi

Ibadah Ramadhan juga telah mendidik kita untuk merasakan betapa tidak enaknya lapar dan haus itu yang juga telah disertai dengan menunaikan kewajiban sakat fitrah bahkan diselingi dengan infaq dan shadaqah yang kesemua itu bermuara pada penumbuhan dan pemantapan rasa tanggung jawab sosial. Karena itu sesudah Ramadhan berakhir, semestinya semakin mantap rasa tanggung jawab sosial kita sehingga kita punya perhatian terhadap kaum muslimin yang mengalami kesulitan hidup secara ekonomi.

Wujud perhatian itu adalah dengan berusaha mengetahui kondisi kehidupan saudara-saudara kita sesama muslim, lalu memikirkan apa yang harus kita lakukan dalam rangka membantu mereka untuk meningkatkan martabat dan kualitas kehidupan mereka. Ini semua harus kita lakukan karena tentu kita tidak ingin hanya karena persoalan ekonomi mereka berubah menjadi kufur.

Dengan demikian, ibadah Ramadhan yang hampir kita akhiri, tentu saja harus meninggalkan bekas yang mendalam sehingga ketaqwaan kita kepada Allah Swt semakin mantap yang berarti apapun yang kita hendak lakukan selalu berpijak pada nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Islam yang agung. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga bermanfaat. Sekian.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

Senin, Juni 12th, 2017

PESAN TAQWA DIBULAN RAMADHAN

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang berbahagia,

Allah swt, telah berfirman didalam al-Qur’an :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 183).

 

Dalam setiap kultum, khutbah, Ust selalu menyampaikan pesan takwa kepada umat Islam. Bahkan pesan takwa ini merupakan rukun dari khutbah itu sendiri. Mengapa? Karena takwa adalah wasiat dari Allah Swt. dan para Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS Ali Imran: 102).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada. Dan ikutilah kejelekan dan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan. Dan perlakukanlah manusia itu dengan akhlak terpuji” (HR Tirmidzi).

Takwa menjadi wasiat abadi karena mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Takwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah Swt.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS An-Nahl: 128).

Perintah untuk mencapai derajat takwa kemudian dilanjutkan dengan penjelasan global tentang cara-cara untuk mencapainya dalam sebuah firman Allah Swt., “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 21).

Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini masih dalam bentuk global, mencakup ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib terdiri dari shalat, puasa, zakat, dan haji, ditambah dengan kewajiban-kewajiban sosial yang diperintahkan oleh Al-Qur`an, seperti berbuat baik kepada orangtua, kerabat, yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman dekat, dan musafir. Sedangkan yang termasuk ibadah sunnah misalnya berdzikir kepada Allah Swt., berdoa kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan membaca Al-Qur`an. Ibadah-ibadah tersebut semuanya dipersiapkan untuk membentuk setiap Muslim menjadi insan bertakwa.

Di antara kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan tersebut, secara lebih khusus, Allah Swt. menekankan pada perintah puasa sebagai saranan pembentukan insan bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 183).

Itqa dan taqwa maknanya adalah menjauhi. Dan taqwallah artinya menjauhi kemarahan dan murka Allah Swt. serta meninggalkan apa yang membuat kemarahan Allah Swt. Dengan demikian, takwa harus diwujudkan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Takwa dasarnya adalah takut kepada Allah Swt. yang merupakan perbuatan hati. Hal ini dijelaskan Allah Swt. dalam firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS Al-Hajj: 32). Rasulullah Saw. juga menegaskan, “Takwa itu ada di sini”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Takwa juga berarti membuat pelindung dan penghalang yang mencegah dan menjaga diri dari sesuatu yang menakutkan. Jadi taqwallah berarti perbuatan seorang hamba dalam mencari pelindung diri agar terjaga dari siksa Allah yang amat ditakutinya. Caranya adalah dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Hadirin Bpk/Ibu yang dirahmati Allah

Para salafush shalih mendefinisikan takwa dengan sebuah ungkapan, “Menaati Allah dan tidak maksiat, selalu berdzikir dan tidak lupa, senantiasa bersyukur dan tidak kufur.” Sifat takwa senantiasa melekat pada seorang yang mukmin selama ia meninggalkan hal-hal yang sebenarnya halal, karena khawatir jatuh ke dalam yang haram, demikian kata Hasan Al-Bashri.

Nilai-nilai ketakwaan tidak dapat membumi dan buahnya tidak dapat dipetik, kecuali jika Seorang Muslim memiliki pengetahuan tentang agama Allah yang menuntun dirinya mencapai derajat muttaqin. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Fathir: 28).

Mengapa demikian? Karena orang yang tidak berilmu tidak tahu apa saja yang wajib dikerjakan dan apa saja yang harus ditinggalkannya. Itulah sebabnya mengapa menuntut ilmu merupakan ibadah yang utama, jalan yang menghubungkan ke surga dan menjadi tanda bahwa seseorang mempunyai keinginan baik.

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memberinya pengetahuan (pemahaman) tentang agama” (Muttafaqun ‘alaih).

Berdasarkan hadits di atas, takwa merupakan perpaduan aktif antara ilmu dan ketaatan. Ilmu akan meningkatkan ketaatan kepada Allah, dan ketaatan akan menambah motivasi untuk meningkatkan ilmu.

Mengapa puasa Ramadhan direkomendasikan oleh Allah untuk menjadi sarana untuk mencapai derajat takwa? Karena di dalam bulan Ramadhan terkumpul hampir semua aktifitas peribadatan. Selain puasa, ada shalat Tarawih, shalat Witir, tilawatil Qur`an, kajian keislaman, zakat, infaq, shadaqah, dan i’tikaf. Selain itu, balasan pahala di bulan Ramadhan juga dilipatgandakan untuk merangsang umat Islam meningkatkan amal salehnya. Oleh karena itu, mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kerinduan dan suka cita. Siapkan diri kita untuk meraih rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari siksa neraka.

Ada beberapa hal yang mesti kita lakukan dalam menyambut datangnya buan suci Ramadhan. Pertama, memperkuat kerinduan dan kecintaan kepada bulan suci Ramadhan dan rasa harap untuk dapat menikmati keutamaannya. Hal ini antara lain dapat diekspresikan dengan doa yang dicontohkan Rasulullah Saw. jika sudah memasuki bulan Rajab,

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan” (HR At-Tirmidzi dan Ad-Darimi).

Kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan inilah yang juga dirasakan oleh para salafush shalih. Karena begitu banyak kebaikan yang diberikan Allah Swt. di bulan Ramadhan, seperti dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dibelenggunya syetan, sehingga tidak dapat leluasa mengganggu manusia. Dan puncaknya adalah diturunkannya Al-Qur`an sebagai pedoman bagi manusia. Pada malam diturunkannya Al-Qur`an, Allah Swt. menjadikannya lebih baik dari seribu bulan.

Kedua, mempersiapkan diri, baik persiapan hati, persiapan akal, dan persiapan fisik. Persiapan hati dengan membuang penyakit-penyakit hati, mengokohkan niat, dan membulatkan tekad untuk mengoptimalkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Persiapan akal dilakukan dengan mendalami ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, sehingga pelaksanaan ibadah Ramadhan dapat mencapai hasil terbaik. Persiapan fisik ditempuh dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah, kebersihan lingkungan, serta menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.

Ketiga, merencanakan peningkatan prestasi ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini dibandingkan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Misalkan peningkatan dalam kualitas dan kuantitas tilawah, peningkatan hafalan, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur`an. Juga perencanaan untuk mengurangi pola hidup konsumtif.

Indikasi tercapainya ketakwaan sebagai buah tarbiyah Ramadhan dapat dilihat dari perilaku kita ba’da Ramadhan. Seseorang yang bertakwa senantiasa berupaya mencari sarana (wasilah) yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. (QS Al-Maidah: 35). Seorang yang bertakwa selalu berkata benar (qaulan sadida) (QS Al-Ahzab: 70). Orang yang bertakwa senantiasa berteman dengan orang-orang saleh (QS At-Taubah: 119). Orang bertakwa senantiasa mengutamakan ukhuwah Islamiyah dan menjaga tali silaturrahim (QS Al-Anfal: 1). Orang bertakwa senantiasa mencari harta yang halal, tidak memakan harta riba, harta hasil KKN, dan harta-harta yang diperoleh dengan cara syubhat.

Taqwa yang menjadi tujuan utama ibadah puasa adalah solusi bagi semua krisis yang tengah melanda negeri ini. Bila para pemimpin negeri ini bertakwa, berapa banyak uang negara yang bisa diselamatkan dan digunakan untuk menyejahterakan rakyat (QS Ath-Thalaq: 2-3). Bila para birokrat bertakwa, semua urusan birokrasi dan administrasi yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan mudah dan lancar (QS Ath-Thalaq: 4). Terimakasih atas perhatiannya, saya akhiri.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

Minggu, Juni 11th, 2017

TRADISI PUASA DALAM AGAMA LAIN

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dimulyakan Allah

Bahwa didalam buku “Dahsyatnya Terapi Puasa” yang diterjemahkan oleh H. Ubaidillah Saiful Akhyar, Lc. Disana dikatakan H Sismono dalam bukunya yang berjudul Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang menyebutkan, puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina kuno, Jepang kuno, Buddha, Hindu, Manu, dan Konghucu. Adapun cara puasanya pun bermacam-macam. Tentu saja, tujuan dan motivasi puasa setiap agama pun berbeda-beda. Semua itu menunjukkan bahwa puasa merupakan tradisi dan kebiasaan dalam setiap agama dan umat-umat terdahulu. Berikut ini tradisi puasa pada peradaban dan agama lain:

  1. Bangsa Mesir

Pemeluk agama Mesir kuno (penyembah berhala) melakukan puasa untuk menghormati tuhan matahari dan Sungai Nil sebelum adanya tuhan-tuhan lainnya. Pengabdian kepada matahari dan Sungai Nil tersebut karena manfaat yang mereka rasakan. Orang-orang Mesir kuno juga melakukan puasa agar bisa menjalin hubungan dengan para dewa. Karena itu, mereka mendirikan kuil-kuil pemujaan. Upacara pemujaan terhadap para dewa ini secara teoretis dibawakan oleh Sang Raja, tetapi kenyataannya sering juga dibawakan oleh deputi atau para pendetanya.

2. Yunani kuno

Puasa juga dikenal di kalangan pemeluk agama Yunani kuno. Puasa tersebut dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuannya. Bagi kaum perempuan Yunani kuno, puasa sangat dipentingkan sebagai kewajiban yang datang dari para pendeta atau mereka wajibkan sendiri. Orang-orang Yunani kuno mengambil tradisi puasa orang-orang Mesir kuno, kemudian mereka mewajibkan puasa tersebut di kalangan mereka. Meski mengadopsi tradisi Mesir kuno, namun puasa orang Yunani kuno dikerjakan dengan tata cara mereka sendiri. Misalnya, para wanita melakukan puasa dengan cara duduk di atas tanah dengan menunjukkan perasaan duka nestapa. Sebagian orang Yunani kuno berpuasa beberapa hari secara berturut-turut, terutama menjelang peperangan berlangsung.

3. Romawi Kuno

Pemeluk agama Romawi kuno sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani (Hellas) menganut politeisme, yakni menyembah banyak dewa. Mahadewa Yunani bernama Zeus, sedangkan mahadewa bangsa Romawi adalah Yupiter. Orang-orang Romawi kuno berpuasa pada hari-hari tertentu, terutama ketika menghadapi musuh, dengan maksud agar memperoleh kemenangan. Mereka biasa berpuasa pada Oktober yang biasa disebut puasa Ceres. Kebiasaan ini kemungkinan pengaruh dari orang-orang Yunani Hellenis yang berpuasa dalam rangka memuja dewa Attis.

4. Zoroaster
Kebiasaan berpuasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Zoroaster. Agama ini dikenal pada abad ke-8 SM di Persia. Di kalangan pemeluk Zoroaster dikenal puasa yang disebut ‘puasa tolak bala bencana’ (deprecated fasting). Namun, dalam kitab al-Milal Wan-Nihal terdapat keterangan bahwa agama tersebut melarang seseorang berpuasa. Karena, agama Zoroaster mengajarkan agar seseorang bekerja keras, sedangkan puasa hanya akan melemahkan tenaga untuk bekerja. Zoroaster juga melarang orang mengurangi makan dan minum. Bahkan, memerintahkan orang memakan makanan yang baik-baik, sehat dan sempurna.

5. Manu
Puasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Manu, sebuah keyakinan yang lahir pada abad ke-3 SM di wilayah Babilonia. Manu, seorang bekas pendeta Nasrani, mengajarkan kehidupan zuhud, hidup serba sederhana dan harus menyingkirkan diri dari pergaulan masyarakat, bahkan tidak perlu membangun sesuatu pun. Umumnya para pengikut Manuisme menganggap puasa sebagai bentuk ibadah yang suci dan luhur. Puasa menurut Manuisme, merupakan ajaran yang tampak sebagai usaha menekan nafsu-nafsu jahat.

6. Cina Kuno

Masyarakat Cina kuno yang menganut ajaran Taoisme dan Konfusianisme juga mengenal tradisi berpuasa. Orang-orang Cina kuno berpuasa pada hari-hari biasa, sedangkan pada hari-hari tertentu seperti ketika terjadi banyak fitnah dan bencana, mereka mengharuskan diri berpuasa, dengan tujuan agar terhindar dari fitnah dan bencana itu. Sementara itu, orang-orang Tibet membiasakan menahan diri dari makan dan minum selama 24 jam berturut-turut tanpa makan sedikit pun, sampai-sampai air liur pun tidak boleh ditelan, dengan tujuan magis maupun religius.

7. Sinto
Menurut catatan kuno, agama Shinto di Jepang dikatakan orang sebagai agama yang para penganutnya dikenal sebagai ‘orang-orang yang berpantang’. Siapa saja tidak boleh menyisir rambut, mencuci, makan daging, maupun mendekati wanita-wanita. Kedudukan badan hukum alim-ulama yang turun-temurun dan disebut dengan Imbe, berfungsi untuk menyiapkan selamatan-selamatan bagi para dewa, karena telah melakukan pantang dari segala pengotoran atau segala hal yang tidak suci.

8. Yahudi
Umat Yahudi atau Bani Israil adalah keturunan Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim. Ya’qub itulah yang biasa dipanggil Israil. Umat Yahudi adalah umat yang taat dalam kepercayaan mereka terhadap Taurat, taat beribadah, dan kaya dengan upacara keagamaan. Puasa pada umat Yahudi tidak kita dapati uraian secara rinci dan jelas dalam kitab Taurat (Perjanjian Lama), kecuali sekadar pujian dan anjuran saja kepada yang melakukannya. Mereka berpuasa, sebagaimana puasa yang dilakukan oleh Nabi Musa sewaktu menerima wahyu di Bukit Sinai.

9. Kristen
Di dalam kitab Injil atau Perjanjian Baru yang diimani oleh umat Kristen, baik itu Katolik Romawi, Kristen Protestan, maupun Kristen Advent memang tidak kita dapati ajaran tentang puasa secara jelas dan rinci, selain sekadar sebutan bahwa puasa sebagai bentuk ibadat yang terpuji dan sanjungan bagi orang-orang yang berpuasa. Dalam Injil Barnabas bisa ditemukan secara panjang lebar tentang ajaran puasa sebagai syariat yang diwajibkan, yang bersumber pada puasa yang dijalankan oleh Yesus sendiri, seperti tersebut dalam kutipan surat 14 ayat 1-6. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam. Dengan munculnya Paulus yang mengajarkan Paulinisme, maka ajaran puasa dalam Perjanjian Baru menjadi berubah, bahkan dihapuskan, karena dianggap sebagai syariat yang memberatkan para pengikut Kristus dan dianggap sebagai penghalang bagi orang-orang yang akan menganut Paulinisme. Karena itu, Paulus tidak memperketat atau mempertegas ajaran puasa; bahkan sekarang umat Kristen tidak lagi mengenal kewajiban puasa.

Dr Ahmad Shalabi dalam buku Perbandingan Agama memaparkan, puasa di kalangan umat Nasrani meliputi puasa hari Rabu yang merupakan hari pengkhianatan terhadap Nabi Isa hingga tertangkap, dan puasa pada hari Jumat. Sesudah itu puasa Natal selama 43 hari yang berakhir pada hari Natal, dan puasa Agung selama 55 hari, yang 40 hari merupakan puasa yang dilakukan Nabi Isa ditambah dua minggu (dua pekan) sebagai persiapan dan penderitaan. Dalam menjalankan puasa-puasa tersebut mereka tidak dibenarkan memakan daging hewan apa pun juga atau apa saja yang bersifat hewani. Yang dibolehkan hanyalah jenis-jenis tumbuhan.

10. Hindu
Ritual berpuasa juga dikenal di kalangan para pendeta Hindu (Brahmana). Para pengikut Brahmanisme memang dikenal sangat fanatik, sangat patuh terhadap perintah puasa yang dibuat oleh para pendeta Brahma. Sejak masa kanak-kanak para pengikut Brahmanisme telah mengenal aturan puasa yang sangat keras. Terutama pada aliran Yogi, ada yang berpuasa sampai 10 hari atau 15 hari bahkan lebih lama lagi dari itu, tidak memakan sesuatu apa pun, atau paling tidak hanya minum beberapa tetes air. Penganut Hindu-Brahma juga terbiasa berpuasa pada hari ke-11 setelah munculnya bulan baru dan bulan penuh. Sementara pemuja Syiwa juga berpuasa tiap hari Senin pada November. Wanita-wanita Hindu lama (kuno) biasa berpuasa kalau suami atau kekasih mereka pergi berperang. Kebiasaan ini terutama dilakukan oleh para wanita di kalangan keraton, dengan alasan agar menang perang. Para penganut Hindu di Bali hingga sekarang masih melaksanakan ajaran puasa, terutama pada Hari Raya Nyepi, yaitu hari raya pergantian tahun Saka, yang berselisih 78 tahun dari tahun Masehi.

11. Buddha
Puasa dalam ajaran Buddhisme berhubungan dengan perbuatan-perbuatan normal (biasa) yang digemari oleh kalangan kebiaraan, yaitu tidak makan antara pukul 12 siang sampai pagi hari berikutnya. Tetapi, tetap dibolehkan meminum air selama berpuasa. Ini merupakan kebiasaan harian para pendeta Buddha. Cara ini diikuti oleh orang-orang luar sebagai tata tertib yang mempunyai faidah khusus dan yang menjadi kewajiban pada waktu liburan agama Buddha, yakni pada bulan baru bulan purnama. Sedangkan di kalangan pendeta Vajjiam, mereka hanya dibolehkan makan pada waktu matahari tergelincir.

12. Tasawuf
Praktik puasa bagi para penganut tasawuf (kaum sufi) merupakan praktik ibadah yang tidak asing, bahkan merupakan salah satu dari macam-macam disiplin ibadah dan syariat yang harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan, kecintaan, keikhlasan, kezuhudan, ketakwaan, keimanan, kerendahan diri, dan penuh harap. Sehingga, bisa dikatakan puasa bagi kaum sufi merupakan persiapan dan jalan menuju makrifat. Untuk itu, mereka melaksanakan puasa, baik yang wajib maupun yang sunah.

13. Kebatinan
Puasa di kalangan penganut kebatinan di Indonesia sangat banyak variasinya. Begitu juga dengan dasar dan motifnya, sesuai dengan macam alirannya. Misalnya, puasa pati geni yang dilakukan selama sembilan hari penuh. Selama delapan hari berpuasa biasa dengan berbuka sedikit ketika terbenam matahari; sedangkan pada hari kesembilan tidak berbuka puasa hingga hari berikutnya pukul 09.00 baru berbuka. Mereka pantang makan lauk pauk, makan sayuran, dan lainnya. Serta ada pula aliran kebatinan yang mengajarkan puasa tiap Senin dan Kamis. Mudah-mudahan daripenjelasan tersebut, dapat menambah wawasan, sekian dan terimakasih

Assalamu’alaikum Wr.Wb

 

Jumat, Juni 9th, 2017

Seputar Nuzulul Qur’an

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dirahmati Allah

Al-Qur’an diturunkan bertujuan agar manusia memperoleh petunjuk yang jelas. Al-Qur’an juga merupakan dasar utama bagi manusia untuk beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.Al-Qurân diturunkan dalam tiga tahap diantaranya :

  1. Al-Qurân diturunkan secara sekaligus ke Lauh al-Mahfûdh dengan cara yang hanya diketahui Allah SWT. dan orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dalam proses awal ini, Al-Qur’an diturunkan dalam satu kumpulan (جُمْلَةً وَاحِدَةً). Sedangkan hikmahnya adalah agar umat manusia mau beriman, meyakini akan wujudnya Lauh al-Mahfûdz sebagai bukti kekuasaan Allah SWT. dan tetap berbaik sangka atas segala kebijakan dari Allah SWT. Dalil turunnya al-Qurân tahap pertama ini adalah :

Yang artinya : “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,  Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”(QS al-Burûj :21-22)

  1. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfûdh ke langit dunia (bait al-‘izzah). Mengenai hal ini ada tiga pendapat :
    • Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada waktu lailah al-qadr, kemudian diturunkan secara bertahap dalam waktu 20 atau 23 atau 25 tahun. Perbedaan jumlah ini karena adanya perbedaan mengenai berapa lama Nabi SAW. tinggal di Mekkah setelah kenabian.
    • Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia selama 20 kali lailah al-qadr dalam 20 tahun. Ada yang berpendapat selama 23 kali lailah al-qadr dalam 23 tahun, ada yang mengatakan selama 25 kali pada lailah al-qadr dalam 25 tahun. Kemudian Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW.Di sepanjang tahun.
    • Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada lailah al-qadr. Setelah itu turun secara bertahap dalam waktu 23 tahun. Kemudian diturunkan secara bertahap dalam berbagai waktu.

Mayoritas ulama setuju dengan pendapat pertama karena lebih masyhur dan terbukti paling valid. Hal ini didukung oleh beberapa dalil diantaranya:

  1. Dalam surat ad-Dukhân ayat 1-3 disebutkan:

“1.Haa miim. 2.  Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, 3.  Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”(QS ad-Dukhân:1-3)

  • Dalam surat al-Qadr ayat 1-2 disebutkan :

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS al-Qadr :1 )

  • Dalam surat al-Baqarah disebutkan :

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS al-Baqarah : 185).

Tiga ayat di atas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada suatu malam yang penuh berkah sebagaimana dalam surat ad-Dukhân. Malam itu disebut dengan lailah al-qadr sebagaimana dalam surat al-Qadr dan terletak pada bulan Ramadan seperti yang termaktub dalam surat al-Baqarah. Sebagaimana dimaklumi, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW. secara bertahap semenjak Beliau diangkat menjadi Nabi sampai wafat. Karena itu, yang dimaksud ketiga ayat di atas tentulah bukan turunnya Al-Qur’an kepada Nabi SAW. namun turunnya Al-Qur’an ke langit dunia sebagaimana yang ditunjukkan oleh Hadits :

عَنْ ابْنِ عَبَاسٍ t أَنَّهُ قَالَ فُصِّلَ الْقُرْآنُ مِنَ الذِكْرِ فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ مِنَ السَّمَاءِالدُّنْيَا فَجَعَلَ الْجِبْرِيْلُ يَنْزِلُ بِهِ عَلَى النَّبِيِّ r, رَوَاهُ الْحَاكِمُ

Ibnu abbas berkata: Al-Qur’an dipisahkan dari ad-Dzikr kemudian diletakkan di Bait al-‘Izzah dilangit dunia, kemudian Jibril membawa (menurunkan) kepada Nabi SAW .

 

عَنْ ابْنِ عَبَاسٍ قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي شهْرِ رَمَضَانَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنيْاَ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ أُنْزِلَ نُجُوْماً (أَخْرَجَهُ الطَبْرَانِيُّ  وَ إِسْنَادُهُ لاَ بَأْسَ بِهِ)

Dari ibn ‘Abbâs ia berkata, “Al-Qur’an diturunkan di malam qadr pada bulan Ramadan ke langit dunia dalam satu malam kemudian diturunkan secara bertahap.”(HR at-Thabrâny).

عَنِ ابْنِ عَبَاسٍ قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً حَتَّى وُضِعَ فِي بَيْتِ اْلعِزَّةِ فِي السَّمَاءِ الدُّنيْاَ ونَزَلَهُ جِبْرِيْلُ عَلَى مُحَمَّدٍ r بِجَوَابِ كَلَامِ الْعِبَادِ وَأَعْمَالِهِمْ (أَخْرَجَهُ الطَبْرَانيِّ وَالْبَزَارُ)

Dari ibn ‘Abbâs ia berkata, “Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus sehingga diletakkan di Bait al-I’izzah di langit dunia. Dan Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW. dalam menjawab pertanyaan para hamba dan perbuatan mereka.” (HR at-Thabrâny dan al-Bazzâr)

Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus ke langit dunia adalah mengagungkan nilai Al-Qur’an dan Nabi SAWyang diberi wahyu sekaligus sebagai pengumuman kepada seluruh penduduk langit bahwa ini adalah kitab yang terakhir diturunkan.

  1. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW. secara bertahap dari langit dunia melalui Malaikat Jibril mulai tanggal tujuh belas Ramadan (menurut sebagian pendapat). Ini sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT. :

Yang artinya : “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),  Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan,  Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS as-Syu’arâ` : 193-195)

Hadirin yang berbahagia,

Adapun alasan dan Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap

Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara bertahap telah dijelaskan oleh Allah SWT. sendiri dalam firman-Nya. Setidaknya ada tiga hikmah yaitu :

  • Lebih menancap di dalam hati beliau SAW. dan menghilangkan keraguan akan kebenaran Al-Qur’an. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Berkatalah orang-orang kafir:Mengapa Alqu’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja,demikinlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakan secara tartil(teratur dan benar).” (QS al-Furqân:32)

  • Mempermudah menghapal Al-Qur’an bagi orang-orang muslimin, memahaminya dan merenungi makna Al-Qur’an, sebagaimana dalam firman Allah SWT. :

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS al-Jumu’ah:2)

  • Sebagai tanda bahwa Al-Qur’an benar-benar diturunkan dari Allah SWT. sebagaimana dalam firman-Nya :

“Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah SWT.) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.”(QS Hûd:1)

Hadirin rohimakumullah,

Di Balik Tanggal Tujuh Belas Ramadan

Kapankah mulai turunnya al-Qurân? Benarkah Al-Qur’an turun pada tanggal tujuh belas Ramadan? Pertanyaan ini selalu muncul tatkala kita memasuki bulan Ramadan. Sebenarnya banyak versi dalam menentukan kapan Al-Qur’an mulai diturunkan. Salah satu diantara pendapat tersebut adalah tanggal tujuh belas Ramadan. Hal ini sesuai yang ditegaskan dalam Hadits-Hadits di bawah ini :

عَنْ خَارِجَةَ بن زَيْدِ بن ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ يُحْيِي لَيْلَةَ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَلَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلا كَإِحْيَائِهِ لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ فَقِيلَ لَهُ  كَيْفَ تَخُصُّ لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ ؟ فَقَالَ إِنَّ فِيهَا نَزَلَ الْقُرْآنُ وَفِي صَبِيحَتِهَا فُرِّقَ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَكَانَ فِيهَا يُصْبِحُ مُبْهَجَ الْوَجْهِ (رواه الطبراني)

Dari Khârijah ibn Zaid ibn Tsâbit dari ayahnya, sesungguhnya ia selalu menghidupkan (beribadah pada) malam dua puluh tiga dan dua puluh tujuh bulan Ramadan. Namun tidak seperti ketika Beliau menghidupkan malam ke tujuh belas. Ia ditanya,”Mengapa engkau mengkhususkan malam ketujuh belas ?” Zaid menjawab, “Pada malam itu al-Qurân diturunkan dan pada paginya dipisahkan antara yang haq dan yang bathil. Dan saat itu wajahnya terlihat cerah. (HR at-Thabrâny).

حَدَّثَنِي حَوْطٌ الْعَبْدِيُّ ، قَالَ : سَأَلْتُ زَيْدَ بن أَرْقَمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ؟ فَقَالَ مَا أَشُكُّ وَمَا أمتري أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ  لَيْلَةَ نُزُولِ الْقُرْآنِ ، وَيَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ( رواه الطبراني)

Hauth al-‘Abdy bercerita padaku. Ia mengatakan, “Aku bertanya tentang lailat al- qadr. Ia menjawab,”Aku tidak ragu dan tidak gamang bahwa seusngguhnya lailat al-qadr adalah tanggal tujuh belas, malam turunya Al-Qur’an dan hari bertemunya dua pasukan.(HR at-Thabrâny)

Dari Hadits-Hadits di atas jelas bahwa berkeyakinan tanggal tujuh belas Ramadan sebagai malam nuzulul Quran mempunyai dasar pijak yang jelas. Syeikh Nawawi al-Bantany mengatakan:

إِلَى أَنْ أَتاَهُ صَرِيْحُ الْحَقِّ مِنْهُ وَوَافَاهُ وَذَلِكَ (إِتْيَانُ صَرِيْحِ الْأَمْرِ اْلمُحَقَّقِ) فِي يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ سَبْعَ عَشْرَةَ (لَيْلَةً) خَلَتْ (مَضَتْ) مِنْ شَهْرٍ اللَيْلَةُ الْقَدْرِيَّةُ (وَهُوَ رَمَضَانُ الَّذِيْ تَكُوْنُ فِيْهِ اْلقَدْرُ غَالِباً)

Sampai Beliau menerima kebenaran yang nyata (wahyu) pada hari Senin tanggal 17 Ramadan, pada malam lailatul qadar.

Dan Hadits riwayat Zaid bin Tsabit juga dijadikan sebagai dasar awal memperingati nuzulul qur’an.

Memperingati nuzulul Qurân seperti yang kita kenal sekarang biasanya berisi pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang intinya mengajak untuk merenungi kembali dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Terimakasih atas perhatiannya, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

Kamis, Juni 8th, 2017

Tempat-Tempat yang diberkahi

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang diberkahi Allah

Terdapat beberapa tempat di muka bumi ini yang diberkahi oleh Allah swt, walaupun pada hakikatnya semua permukaan bumi ini telah diturunkan berkah, sebagaimana pada pembahasan air sebagai berkah yang terdahulu. Dalam Al-Qur’an, Allah mengisyaratkan kepada beberapa tempat yang telah diberkati-Nya, diantaranya adalah firman-Nya :

Yang artinya : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”      [Q.S. ‘Ali Imran : 96]

Ka’bah merupakan rumah pertama yang dibangun diatas bumi, dan dikhususkan sebagai tempat ibadah, yaitu sejak Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alahimassalam untuk memulai memasang sendi-sendi bangunan tersebut, dan Allah menjadikannya tempat yang khaus bagi orang-orang yang bertawaf, beri’tikaf, ruku’ dan sujud kepada-Nya.  Sebagaimana Allah telah melimpahkan berkah ke atas rumah itu dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi semesta alam, ayat ini sekaligus sebagai satu bantahan daripada Allah Subhanahu Wata’ala kepada Ahli Kitab, yang mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis.

Untuk mengungkap berkah yang dikurniakan Allah ke atas Ka’bah ini, mari kita simak ungkapan Sayyid Quthub rahimahullah :

“Dari keutamaan rumah ini (Ka’bah) adalah bahwa siapa saja yang memasukinya akan merasa aman. Ia ibarat rasa aman bagi setiap orang yang takut. Tidak ada tempat yang seperti ini di tempat yang lain di bumi ini. Hal ini sudah dimulai sejak dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail sampai pada masa Arab Jahiliyah, yaitu pada masa penyimpangan daripada agama Ibrahim yang mereka lakukan, dan daripada tauhid yang sebenarnya yang dibawa oleh agama ini. Sampai ke hari ini, kehormatan keatas tempat ini tetap berlaku, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan al-Basri dan ulama lainnya: “Seorang lelaki membunuh dan meletakkan sasarannya pada lehernya, kemudian ia memasuki masjid al-haram ini, kemudian anak mangsa menemuinya, dan amarahnya tidak bangkit (ia sanggup menahan kemarahannya) sampai ia keluar daripada tempat itu (masjid al-haram)”.

Tentang keutamaan Makkah dan Masjid al-Haram yang ada didalamnya, Rasulullah SAW menjelaskannya dalam sebuah hadisnya :

وفى الصحيحين – واللفظ لمسلم – عن ابن عباس رضى الله عنهما , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم فتح مكة , “إن هذ البلد حرمه الله يوم خلق السموات والأرض , فهو حرام بحرمة الله إلى يوم القيامة . وإنه لم يحل القتل فيه لأحد قبلى , ولم يحل لى إلا فى ساعة من نهار . فهو حرام بحرمة الله إلى يوم القيامة , لا يعضد شوكه , ولا ينفر صيده , ولا تلتقط لقطته إلا من عرفها , ولا يختلى خلاه . . . إلخ

Yang artinya : “Dalam Kitab Shahihaini (Bukhari dan Muslim) – sedang lafaz dari Muslim – dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah SAW bersabda pada hari pembebasan Makkah, “Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan Allah sejak hari penciptaan langit dan bumi, maka ia telah menjadi tempat yang haram dengan pengharaman Allah sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya tempat ini tidak dihalalkan kepada seorangpun sebelumku untuk membunuh didalamnya, dan tidak dihalalkan untukku (untuk berperang didalamnya) melainkan di waktu siang (sahaja), maka ia telah menjadi tempat yang haram dengan pengharaman Allah sampai hari kiamat, tidak boleh membuang duri yang ada padanya, tidak boleh berburu padanya, dan tidak boleh mengambil barang yang tertinggal didalamnya melainkan orang yang mengenalinya, tidak boleh memotong tanaman yang ada padanya . . .”

Dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam disebutkan bahwa beliau beserta istri dan kaumnya menuju suatu tempat yang telah diberkati oleh Allah, di daerah Thuur (Sinai) pinggiran negeri Mesir yang juga sangat subur meskipun di daerah yang berpadang pasir, Allah menceritakannya dalam firman-Nya :

Yang artinya : “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pokok kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” [Q.S.Al-Qashas : 30]

Tempat ini menjadi sangat berkah bagi Nabi Musa ‘alaihissalam, kerana ditempat itulah beliau mendengar firman Allah dan bercakap langsung dengan-Nya. Di tempat dan di saat itulah Musa ‘alaihissalam diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.

Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang negeri (tempat) yang penuh dengan berkah, maka yang dimaksud dengan “negeri” di sini ialah negeri Syam, termasuk di dalamnya bumi Palestin. Tuhan memberkahi negeri itu ertinya: kebanyakan nabi dan rasul yang diutus oleh Allah berasal daripada negeri itu dan tanahnyapun subur, seperti dalam firman-Nya :

Yang artinya : “Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhan-mu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” [Q.S.Al-A’raaf : 137]

Dalam ayat lain Allah mengisahkan tentang Nabi Ibrahim dan Luth yang berada di sebuah negeri yang juga penuh dengan berkah :

Yang artinya: “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. [Q.S. Al-Anbiyaa’ : 71]

Pada masa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, negeri itupun mendapat berkah daripada Allah, Allah berfirman :

Yang artinya : “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. Al-Anbiyaa’ : 81] Firman Allah dalam surah Saba’ :

Yang artinya : “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.” [Q.S. Saba’ : 18]

Yang dimaksud dengan “negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya” ialah negeri yang berada di Syam, kerana kesuburannya; dan negeri-negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam, tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesusahan.’

Pada masa Rasulullah SAW, beliau yang diutus dan menyampaikan risalah Allah di jazirah Arab, maka Allah ingin menampakkan kepada beliau, bahawa disamping kota Makkah yang terlebih dahulu diberkati oleh Allah, disana juga terdapat negeri-negeri para saudara beliau yang mendapat berkah daripada Allah, yang merupakan bumi perjuangan para Nabi dan Rasul, untuk menunjukkan satu perjuangan yang sama, menyampaikan aqidah yang sama, konsep hidup yang sama, dan menuju ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Allah berfirman yang mengisahkan perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW :

Yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam daripada Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian daripada tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. Al-Israa’ : 1]

Hadirin yang berbahagia

Berkah daripada Al-Masjidil Haram dan Al-Aqsa tidak hanya setakat di masa para Nabi dan Rasul itu sahaja, ia akan tetap menjadi bumi Allah yang penuh berkah bagi ummat-Nya sampat ke hari kiamat.

Negeri Palestin, merupakan bumi yang penuh dengan berkah bagi ummat Islam, ia menjadi saksi pertarungan dan perhelatan antara yang haq dan yang bathil, sejak masa para Nabi dan Rasul sampai ke masa sekarang, iaitu antara mereka yang membawa al-haq (kebenaran) dan musuhnya yang membawa al-bathil (kebatilan), samada daripada bangsa Yahudi mahupun Nasrani. Mereka selalu membenci kebenaran yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, terutama daripada bangsa Yahudi yang hingga kini masih merampas dan menguasai tanah milik ummat Islam itu.

Ia masih tetap menjadi bumi penuh berkah dengan perjuangan kaum muslim Palestin, meskipun dengan batu sebagai senjata mereka melawan kereta-kereta kebal, senjata automatik kaum Zionis Israel yang telah di kutuk dan dilaknat oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Tak ada yang berubah daripada watak bangsa Yahudi ini. Mereka adalah bangsa pengobar perang, penghancur peradaban,pembunuh para nabi, penyebar kebejatan moral, dan tentunya yang sangat nampak sekali adalah, pelanggar janji. Perjanjian damai Palestin-Israel boleh dikumandangkan, tetapi operasi penghancuran dan pembunuhan terhadap rakyat Palestin tetap mereka lakukan.

Dalam setiap akhbar menyebutkan, hanya dalam beberap saat, kumpulan Zionis itu terus membunuh warga Palestina di Gaza, Rafah dan di Baitul Maqdis. Rudal-rudal diluncurkan daripada helikopter militer dan pasukan darat, kumpulan agresor itu terus menyerang pemukiman muslim Palestin di Jalur Gaza. Mereka terus membuat rancangan untuk berdamai dengan bangsa Palestin, tetapi mereka juga yang melanggar kesepatakan damai tersebut, kerana memang beginilah watak dan sifat mereka. Perjuangan di bumi penuh berkah ini tidak akan berhenti, pelbagai bentuk perlawanan ummat Islam terhadap Zionis Yahudi terus dilakukan, diantaranya adalah kumpulan Hamas, Jihad dan kumpulan-kumpulan perjuangan Islam lainnya. Mereka ingin mendapatkan salah satu daripada dua perkara yang kedua-dua perkara tersebut adalah baik dan mulia, iaitu samada hidup dengan penuh kemuliaan ataupun mati dengan syahid.

Sumber-sumber militer Zionis mengungkapkan, bahawa sejak meletusnya Intifadha pada September 2001 silam, Hamas telah menembakkan lebih daripada 140 roket yang dikenal dengan nama Al-Qossam, dan 1700 mortir ke arah pemukiman Yahudi. Namun Zionis mendakwa, tidak ada mangsa yang bererti ataupun yang tewas di pihak mereka. Para pejuang muslim Palestin meyakini, bahawa bangsa Yahudi Zionis tidak pernah memiliki niat yang baik untuk berdamai dengan kaum muslimin, rancangan perdamaian yang mereka buat hanyalah sebagai helah sahaja untuk lebih banyak lagi menguasai bumi Palestin yang penuh dengan berkah ini.

Perlawanan kaum muslimin di bumi Palestin akan terus berlanjut, kerana ia adalah bumi para anbiyaa’, bumi masjid Al-Aqsha yang menjadi qiblat pertama ummat Islam, dan bumi perjuangan Shalahuddin al-Ayyubiy ketika mengusir kaum salibis yang sombong dan angkuh. Bumi Palestin merupakan tempat yang penuh dengan berkah, sebagaimana Allah terangkan dalam Al-Qur’an, ia menjadi bumi tempat mi’rajnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap darah yang jatuh di bumi itu merupakan darah para syuhada di sisi Allah ‘Azza Wajalla, dan setiap muslim berkewajipan untuk berjihad didalam mempertahankan negerinya daripada setiap kezaliman dan penindasan orang-orang yang melampau.

Negeri-negeri seperti Palestin, Jordan, Lubnan, Syiria, Iraq, Mesir dan lain sebagainya termasuk dalam kawasan Syam, yang sangat subur daripada dahulunya sehinggalah sekarang. Maka, tidak hairan apabila bangsa Yahudi dan sekutu-sekutunya tergamak untuk merampas tanah yang subur tersebut, sebagaimana ia merupakan daerah-daerah penghasil buah tin dan zaitun terbaik dan terbanyak di dunia.

Dalam Al-Qur’an, Allah meyebutnya sebagai pokok yang penuh dengan berkah, mari kita simak dengan seksama firman Allah tersebut :

Yang artinya : “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah  lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pokok yang banyak berkahnya, (yaitu) pokok zaitun yang tumbuh  tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (sahaja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. An-Nuur : 35]

Demikianlah Allah menerangkan keistimewaan daripada pokok zaitun ini, Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti pelita yang dinyalakan dengan minyak daripada pokok zaitun tersebut, minyaknya saja boleh menerangi dan mengeluarkan cahaya, meskipun belum disentuh oleh api, maka apabila ia dinyalakan tentulah menjadi cahaya diatas cahaya.

Ia merupakan pokok yang penuh dengan berkah dalam hal apa saja, batangnya, buahnya, sehinggalah kepada minyak yang dihasilkan daripadanya. Namun, keberkahan pokok zaitun ini, keberkahan tempat-tempat yang penuh berkah ini mestilah diberikan kepada orang-orang-orang yang beriman dan mampu menjalankan amanah. Bangsa Yahudi tidak beriman kepada Allah dan tidak boleh menjalankan amanah apapun juga. Hanya kaum muslimin yang beriman kepada Allah yang mampu untuk menjalankan amanah yang diberikan Allah kepada mereka.

Terimakasih atas perhatiannya, semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

 

 

 

Rabu, Juni 7th, 2017

HARTA BANYAK TIDAK MENJAMIN

 

Assalamu’ alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dimulyakan Allah

Seorang bapak yang berpenghasilan 9 Juta dalam satu bulan umpamanya, ia sudah dapat dianggap mampu untuk menghidupi istri dan dua atau tiga orang anaknya, yang masih sekolah menengah maupun pelajar di Universitas. Namun hal ini boleh terjadi apabila sang bapak mendapatkan gaji atau penghasilannya daripada rezki yang baik dan halal, kerana inilah yang menjadi kunci utamanya.

Dalam keluarga seperti ini, sang ibu juga ikut mengambil peran dalam mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangga, ia lebih berfikir untuk mengutamakan yang terpenting dalam kelangsungan hidup anggota keluarga. Pendidikan anak-anak menjadi prioritas setiap anggota keluarga, kerena ialah yang akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang.

Orang tua mestilah mengajarkan anak-anak untuk hidup dalam kesederhanaan, tidak terpedaya dengan ajakan kawan-kawan yang selalu mengajak untuk hidup glamor dan berhura-hura, menghabiskan masa muda dengan kemewahan yang mereka itu tidak layak untuk menjalaninya.

Dengan perhatian orang tua semacam ini, maka tidak mustahil daripada keluarga semacam ini pulalah akan tumbuh dan lahir generasi-generasi yang cemerlang, berakhlak mulia dan berprestasi, anak-anak yang boleh dibanggakan oleh kedua orang tua, bangsa dan agamanya. Maka, hal ini boleh kita katakan sebagai suatu berkah daripada rezki yang baik dan halal, yang didapat oleh orang tua dalam menafkahi keluarganya.

Lain halnya dengan seorang bapak yang berpenghasilan puluhan juta, dalam setiap bulannya, namun ia mendapatkannya dengan cara yang buruk dan haram, sama dengan mengambil hak orang lain dengan penuh kezaliman, dan biasanya ia tahu bahwa itu merupakan suatu pencurian dan penindasan terhadap hak milik orang lain. Kadangkala ia bangga dengan harta yang dipakai dan dimakannya, ia tampak begitu angkuh dan sombong diatas penderitaan ribuan orang yang hak milik mereka dirampas dan dicuri.

Nah, apabila kita melihat dalam realitas kehidupan keluarganya, ternyata sang bapak tetap tidak merasa cukup dengan harta yang telah didapatkannya. Dalam kesehariannya, ia tetap dalam memikirkan biaya yang mesti dikeluarkan setiap hari dan bulannya. Uang dengan penghasilan yang ada tidak cukup untuk menghidupi satu orang istri dan dua orang anaknya, padahal hasil curiannya lebih besar daripada gaji yang semestinya ia terima.

Hadirin yang berbahagia

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini tidak segan-segan untuk meminta uang belanja yang sangat besar. Mereka akan menggunakan tipuan dan kebohongan demi mendapatkan uang bapaknya. Ia seolah-olah hendak menguras habis harta orang tuanya, mulai daripada uang belanja motor, handphone, membeli-pakaian dengan mengikuti trand terbaru, dan lain sebagainya dalam kos yang sangat tinggi dan mahal.

Biasanya, sang ibu juga tidak mau ketinggalan daripada sang bapak dan anak-anak mereka, pelbagai koleksi pakaian dan perlengkapan rumah tangga tidak henti-henti dibeli, apalagi apabila sang suami seorang kakitangan kerajaan maupun korporat, yang mesti sering menghadiri pelbagai acara rasmi maupun tidak rasmi. Ia tidak mahu apabila orang lain melihat dan memperkatakan tentang dirinya, bahwa ia memakai pakaian yang sama dalam dua acara yang berbea, meskipun baru berjarak satu bulan saja.

Suami dengan pendapatan yang banyak, tidak tertutup kemungkinan juga untuk mencari kesenangan pribadi dan sesaat diluar rumah, ia sangat mudah sekali terpedaya dengan bujukan dan godaan rakan-rakannya yang lebih dahulu telah mencuba kehidupan maksiat.  Ia mulai berkenalan dengan wanita lain, dan menjalani hidup bersama dibawah satu atap tanpa ikatan perkahwinan. Kerana memang, manusia itu tidak akan pernah merasa puas terhadap godaan harta, tahta dan wanita apabila cobaan ini datang kepadanya.

Bukan itu saaja, dengan uang ia berfikir boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan akibat dan resiko yang akan menimpanya. Umpanya, ia tidak lagi senang melihat muka istri dan penampilannya, ia merasa tidak nyaman apabila berada dan bermalam dirumahnya sendiri, maka ia sangat berhasrat untuk memiliki istri simpanan dan membelikannya sebuah rumah ditempat yang lain pula.

Maka, ibarat kata pepatah, “sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, lama-lama pasti akan tercium juga”. Maka dari sinilah mulainya malapetaka dalam sebuah rumah tangga, sang istri mulai curiga dengan tingkah laku sang suami, terutama setiap kali pergi keluar rumah dipagi hari, sampai ketika sang suami tidak lagi tidur di rumah pada malam harinya. Tidak lama setelah itu, tercium juga apa yang diperbuat sang suami di luar rumah, maka muncullah pertengkaran, pergaduhan antara suami dan istri, tidak menutup kemungkinan pula terjadinya perceraian, atau bahkan saling membunuh dengan alasan mempertahankan harga diri mereka masing-masing.

Anak-anak yang sudah terbiasa hidup mewah dan memiliki uang yang banyak, mereka biasanya tidak tertarik untuk masuk dalam pergaduhan antara kedua orang tua mereka. Perkara apakah orang tua mereka akan bercerai, memiliki istri simpanan, memiliki suami simpanan, mereka tidak mau peduli. Yang penting bagi mereka adalah, segala keperluan mereka boleh dipenuhi oleh orang tua mereka, dapat memiliki wang yang banyak, dan kemudian berfoya-foya dalam menghabiskannya.

Hadirin rohimakumullah

Disini, berlakulah sunnatullah (ketentuan Allah) tersebut, apabila orang tua dengan mudah mendapatkan hartanya, tetapi dengan cara yang haram, maka anak-anakpun dengan mudah pula untuk menguras dan membelanjakan hartanya, sama dengan cara baik, apatah lagi dengan cara yang haram, seperti terbabit dalam berbagai kes dadah, kriminal, dan tidak sedikit pula daripada mereka yang terjerumus kedalam jurang hitam kemaksiatan.

Demikianlah perumpamaan antara harta yang didapat dengan cara yang baik dan halal, maka ia akan dibelanjakan kepada yang baik dan halal pula, maka jadilah ia rezki yang penuh dengan berkah bagi seisi keluarga. Sebaliknya, ketika harta itu didapat dengan cara yang buruk dan haram, maka ia juga akan dibelanjakan kepada yang buruk dan haram pula, maka jadilah ia rezki yang buruk dan haram serta sangat jauh daripada berkah Allah. Bahkan, tidak jarang daripada harta haram ini menjadi bomerang bagi pemiliknya, lambat ataupun cepat, ia akan membinasakan mereka di dunia, dan menyiksa mereka di akhirat. Naudzubillahimindzalik. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum wr wb

 

 

Selasa, Juni 6th, 2017

BERKAH DALAM ISLAM

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Hadirin Yang diberkahi Allah

Mengkaji tentang hakikat berkah sangat penting artinya bagi kita. Setiap kita perlu dan berhak untuk bertanya pada diri sendiri; Mengapa kita mesti meminta berkah daripada rezki yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, tidakkah dengan menikmati dan memanfaatkan rezki itu sahaja sudah cukup?! Mengapa pula harus meminta berkah segala. Kita telah diberi tubuh yang sihat dan harta yang banyak, bukankah rezki itu sudah ada pada kita, kesihatan jasmani, harta yang lebih daripada cukup ada ditangan kita? Sekarang, terpulang kepada rizki itu sahaja, samada ia akan mendatangkan berkah ataupun tidak kapada kita?! Mengapa mesti dipersoalkan dan harus dikaji pula?

Memang, banyak orang yang tidak mengambil berat dengan rezki yang telah didapatinya, samada ia mendapatkannya dengan cara yang baik dan halal, mahupun dengan cara yang buruk dan haram. Dan sangat banyak orang yang tidak peduli samada rezkinya itu mendatangkan berkah ataupun tidak kepada dirinya dan keluarganya. Ertinya, mereka tidak kesah dalam perkara ini. Padahal, perkara ini sangat penting untuk memperbaiki hasil kerja dan usaha yang ia lakukan, demi meraih rezki dan juga dampaknya pada orang-orang yang akan ia nafkahi.

Hadirin Yang berbahagia

Kata berkah berasal daripada bahasa Arab, yaitu dari asal kata baraka, yang apabila digunakan untuk seseorang bererti mendoakannya semoga mendapat berkah atau diberkati. Dan al-barakah itu sendiri bererti kenikmatan, kebahagiaan dan juga penambahan atau nilai tambah. Seorang mukmin mengharapkan berkah ini daripada banyak atau sedikit rezki yang telah diberikan Allah kepadanya, kerana berkah daripada rezki inilah yang boleh mencukupkan segala keperluan hidupnya, samada yang bersifat moril mahupun materil, yang tampak oleh mata ataupun yang tidak tampak, tetapi ia sangat merasakan manfaatnya.

Sebagai contoh yang mudah, seorang bapa telah mencurahkan seluruh tenaga dan fikiran siang dan malam, bekerja keras, untuk mencari rezki demi menafkahi istri dan anak-anaknya. Kadangkala ia tidak peduli apakah mendapatkan harta itu dengan cara yang baik dan halal ataupun dengan cara jahat dan haram. Ia bekerja keras untuk mendapatkan harta dengan cara mencuri, merampok dan merompak hak orang lain “rasywah”, ia sangat menyedari bahawa perbuatannya itu sesuatu yang buruk, jahat, bejat dan tidak bermoral. Pada hakikatnya, usahanya ini sangat beresiko sekali terhadap dirinya dan keluarganya, samada di dunia dalam kehidupan berumah tangga mahupun dampaknya di akhirat kelak. Ibu bapa mungkin boleh membelikan anak-anak mereka motor, kereta, pakaian yang baru dan memberi wang belanja yang lebih daripada gaji sang bapa yang sebenarnya.

Tetapi, daripada realiti yang sering kita lihat adalah, bahwa tidak sedikit daripada keluarga seperti ini, sang bapa tidak lagi serumah dengan sang ibu, ternyata ia telah memiliki rumah-rumah yang lain dengan istri-istri yang lain pula, maka tidak mustahil apabila anak-anak mereka inilah yang sering terbabit dalam pelbagai kes kriminal, penagih dan jual-beli dadah, pergaulan bebas dan terjerumus kedalam lembah hitam kemaksiatan. Rumah-rumah dalam keluarga seperti ini ibarat neraka sebelum mendapatkan neraka yang sebenarnya di akhirat kelak, na’uzubillah min zaalik. Harta yang begini sangat jauh daripada ketenangan, ketentraman, keharmonisan yang menjadi tujuan utama hidup berumah tangga, sebagaimana harta yang beginilah yang sangat lebih jauh daripada berkah Allah Subhanahu Wata’ala ?

Lain halnya dengan seseorang bapa yang berusaha siang dan malam demi meraih rezki yang baik dan halal di jalan Allah, adakalanya ia mendapatkan rezki yang banyak dan tidak jarang pula jika ia tidak mendapatkan apa-apa dalam masa yang cukup lama. Namun, apabila dilihat keluarganya, sang istri tidak pernah mengeluh, meminta kepada suami hal-hal yang memberatkannya, tidak pernah memaksakan kehendak untuk membeli-belah ini dan itu yang tidak terlalu penting dalam keperluan rumah tangga.

Apabila kita melihat anak-anak dalam keluarga seperti ini, mereka tumbuh dewasa seperti anak-anak yang lainnya. Di sekolah, mereka hormat kepada para guru, selalu berprestasi, sedang dirumah pula mereka patuh dan selalu berbakti kepada kedua orang tua, Maka, adakah ini suatu berkah daripada rezki yang halal yang diberikan Allah kepada mereka? Ya, sangat mungkin sekali.

Memang, berkah itu tampak dan boleh disedari sendiri oleh seseorang setelah rezki itu dimanfaatkan dan digunakan oleh tuannya. Seorang pedagang yang jujur pada dirinya dan keluarga misalnya, kadangkala ia mendapatkan laba yang banyak dan tidak jarang pula sedikit, bahkan merugi, tetapi ia sama sekali tidak mengeluh, mengumpat ataupun menyalahkan sesiapa. Namun, dalam lingkup keluarganya, ia boleh dikatakan menjadi seorang suami dan bapa yang berhasil dan berjaya. Kepenatannya berdagang daripada subuh hingga petang langsung hilang, hanya kerana senyuman sang istri dan keceriaan anak-anak yang menyambutnya ketika sampai di syurga rumah mereka. Pada malam hari pula, mereka berkumpul beribadah bersama, mengaji Al-Qur’an, menerangi isi rumah dengan bacaan-bacaan Kitab suci ini, dan sesekali mereka bersenda gurau bersama, sehingga sang ayah lupa apabila pada hari itu ia tidak mendapatkan hasil apa-apa daripada usaha dan kerja kerasnya.

Maka daripada sini, tampaklah berkah daripada rezki yang baik dan halal pada kehidupan mereka di sepanjang harinya, mereka mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan keharmonisan dalam hidup bersama berumah tangga. Apabila ada sama-sama dirasa, tidak ada sama-sama pula ditahan. Berkah itu memang tidak dapat diperkatakan kepada orang banyak, namun ia hanya dapat dirasakan oleh orang yang selalu berserah diri kepada Allah, ia merasakan berkah itu datang kepada seisi keluarga tanpa melihat kepada jumlah atau kuantiti rezki yang diberikan. Sedikit ataupun banyak rezki yang diberikan ia tetap merasakan berkah itu telah dilimpahkan kepadanya dan seisi keluarganya, bahkan dengan beberapa ringgit yang ia sedekahkan ia juga mendatangkan berkah kepadanya dan orang-orang yang menerimanya. Bukankah mereka yang faqir, miskin dan dalam kelaparan akan selalu mendoakan kita apabila mereka menerima sesuatu yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka? Maka didalam setiap do’a, kita selalu menghubug-kaitkan rezki itu dengan keberkahan yang menyertainya, meminta berkah daripada rezki yang diberikan, samada rezki itu banyak ataupun sedikit, didapat dengan usaha yang keras dan gigih mahupun dengan cara yang mudah (wabarakatan fir-rizqi).

اللهم إنا نسألك سلامة في الدين , وعافية فى الجسد , وزيادة فى العلم ,

وبركة فى الرزق , . . .

Artinya : “Ya Allah, Sungguh kami meminta keselamatan kepadaMu dalam urusan agama (kami), keselamatan terhadap jasad, penambahan terhadap ilmu, dan keberkatan dalam hal rezki, . . .

Nabi Nuh ‘alaihissalam, ketika berada di atas kapal bersama orang-orang yang ikut bersamanya, dan selamat daripada musibah banjir yang menenggelamkan seluruh daratan bumi ini, maka beliau diperintahkan untuk memuji Allah yang telah menyelamatkan mereka daripada orang-orang yang zalim, dan menyuruh beliau untuk berdo’a :

Yang artinya: “Dan berdo’alah: “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” [Q.S.Al-Mu’minuun : 29]

Ayat ini mengajarkan kepada kita, bahawa setelah berusaha dengan keras sesuai dengan perintah Allah, kita dianjurkan untuk meminta tempat yang diberkati dalam kehidupan kita di dunia ini. Pada hakikatnya adalah, bahawa Allah-lah yang mengetahui dan merencanakan dimana tempat yang terbaik bagi kita, atau bahagian mana daripada daratan bumi ini yang mendatangkan berkah kepada kita. Ayat ini juga memberikan tuntunan kepada kita, supaya kita memohon kepada Allah semoga diberikan tempat bermukim yang baik dan penuh dengan berkah. Rumah yang tentram, damai, harmonis, tenang dan penuh berkah daripada-Nya. Tempat berusaha yang aman, perkebunan yang menghasilkan, pertanian yang menguntungkan, dan pekerjaan apa sahaja yang mendatangkan manfaat kepada orang banyak dan selalu diberkati oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Hidup manusia di dunia ini hanyalah sekejap dan sementara sahaja, tidak seorangpun yang mendakwa bahawa dirinya pasti akan boleh hidup sekian hari, minggu, bulan atau sekian tahun lagi?! Setiap kita ibarat seorang musafir yang sudah mulai bertolak sejak kita dilahirkan oleh ibu kita keatas dunia ini, dan sekarang sedang menjalani kehidupan dunia menuju kampung akhir yang abadi di akhirat, diantara kita ada yang pendek masa hidupnya di dunia, dan ada juga yang dipanjangkan kepada beberapa tahun lamanya, seperti firman Allah :

Yang artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya).” [Q.S. Al-Ahzaab : 23]

Maka terpulanglah kepada kita, sejauh manakah hidup kita selama ini telah mendatangkan berkah kepada diri kita sendiri, keluarga kita mahupun kepada orang lain daripada kaum muslimin. Seorang musafir mestilah akan melanjutkan perjalanannya menuju kampung yang abadi tersebut, maka alangkah merugi dan sia-sianya apabila kehidupan dunia yang sementara ini sangat jauh daripada berkah Allah, samada tempat ia bermukim, rumah, tempat berusaha, bekerja mencari nafkah dan lain sebagainya.

Setelah seseorang berusaha dan berikhtiar serta bertawakkal kepada Allah, maka jelas Allah tidak akan mensia-siakan usaha dan doa hamba-hamba-Nya, yang selalu bermohon kepada-Nya,  dan Dia-lah Sebaik-baik yang akan menempatkan kita pada tempat yang sesuai untuk kita dan seisi keluarga kita, yaitu tempat duduk yang penuh dengan berkah didalam mengharungi bahtera kehidupan dunia yang sementara ini, namun kehidupan yang sementara ini sangat menentukan bagi kebaikan di dunia itu sendiri apalagi untuk kebaikan yang abadi di akhirat kelak. Seseorang tidak salah apabila meminta rezki yang banyak dan berlimpah, tetapi ia mesti menghubung-kaitkannya dengan rezki yang baik, halal dan mengandung berkah didalamnya,

اللهم ارزقنا رزقا واسعا حلالا طيبا مباركا وأنت خير الرازقين

Yang artinya  : “Ya Allah, berikanlah rezki kepada kami dengan rezki yang luas, yang halal, yang baik, dan yang penuh berkah, dan Engkaulah sebaik-baik Yang Maha Pemberi rezki”.

Rezki yang sampai ke tangan kita tidak lebih daripada sekedar singgah dan kemudian ia akan berpindah kepada orang lain. Rezki kita adalah apa yang kita rasakan manfaatnya keatas diri kita, atau apa yang telah mendatangkan manfaat keatas diri kita. Maka alangkah mulianya, apabila rezki yang kita manfaatkan dan nafkahkan itu mendatangkan berkah kepada kita dan seisi keluarga. Semoga ada manfatnya. Terimakasih atas perhatiannya

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

 

 

 

Senin, Juni 5th, 2017

NIKMATNYA BULAN RAMADHAN

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dirahmati Allah

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, kita menikmati puasa sepertimana kita menikmati ibadah-ibadah yang lainnya. Puasa merupakan amalan yang penuh kenikmatan. Hanya orang yang merasakannya yang mengetahui kenikmatannya. Puasa merupakan salah satu daripada lima rukun Islam disamping dua kalimah syahadah, sholat, zakat, dan haji. Kesemua rukun Islam tersebut adalah amalan-amalan yang penuh dengan kenikmatan, kerana sesungguhnya Islam itu secara keseluruhannya adalah nikmat daripada Allah. Tidak diragukan lagi bahawa Rukun  Islam adalah nikmat-nikmat besar bagi umat  Islam. Memang semua ibadah memberikan kenikmatan, namun puasa memberikan kenikmatan tersendiri dibanding dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Sesungguhnya setiap ibadah itu memiliki keistimewaan dalam memberikan  kenikmatan. Berikut ini beberapa kenikmatan yang kita kecapi daripada puasa-puasa yang kita lakukan, khasnya puasa yang dilakukan di sepanjang bulan suci Ramadhan :

  1. Puasa Membuat Diri Kita Terpelihara

Tidak ada perkara yang lebih kita sukai daripada perkara yang boleh membawa kepada pemeliharaan diri. Puasa adalah di antara amalan yang boleh membawa kepada terpeliharanya diri. Kita telah mengamalkannya dan mendapatkan buktinya. Sebenarnya bukti puasa sebagai pemelihara diri boleh kita dapatkan lebih awal melalui keyakinan kita kepada firman Allah:

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S Al-Baqarah : 183)

Ayat ini menerangkan bahawa orang yang berpuasa akan menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa adalah orang yang terpelihara dirinya daripada kesusahan, kesengsaraan dan malapetaka. Bahkan akan mendapatkan banyak kebaikan (keberkatan) daripada langit dan bumi. Allah berfirman :

Artinya :” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah daripada langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami seksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S Al-A’raf : 96)

Inilah yang membuat kita menikmati puasa yang dilakukan. Rasanya tidak ada manusia  yang tidak suka dirinya terpelihara daripada kesusahan, kesengsaraan dan malapetaka. Maka kita tidak merasa berat apalagi terbeban hanya kerana tidak makan dan tidak minum selama berpuasa, sebab semua itu untuk mencapai tujuan yang sangat berharga di dalam hidup ; iaitu terpeliharanya diri di dunia dan di akhirat.

  1. Puasa Menjadikan Kita orang-orang yang sabar

Kenikmatan lain daripada puasa yang kita lakukan adalah kerana puasa itu boleh menjadikan kita orang-orang  penyabar. Sesungguhnya kita akan menikmati perkara-perkara yang akan membawa diri kita kepada kejayaan. Sesungguhnya dapat menjadi seorang yang penyabar adalah suatu kejayaan. Sebab banyak sekali pekerjaan yang memerlukan kesabaran ; sebagai suami ataupun sebagai isteri, sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai pemimpin, sebagai rakyat, sebagai guru, sebagai murid, sebagai pendakwah, sebagai apa pun  kita, kesabaran  adalah yang mutlak diperlukan. Tanpa kesabaran tidak akan berhasil pekerjaan yang kita lakukan. Sesungguhnya kejayaan kita hari ini adalah disebabkan kerana kesabaran yang kita miliki. Maka saya menikmati puasa kerana ia boleh menjadikan saya sebagai seorang yang penyabar.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ ) ابن ماجه)

Artinya : Diriwayatkan daripada Abu Hurairoh R.A bahawa Rasulullah SAW bersabda: :”Puasa itu sebahagian daripada kesabaran”. (H.R. Ibnu Majah)

Dalam hadis yang lain Rasulullah menyebutkan pula bahawa bulan puasa adalah bulan sabar :

أَبُو ذَرٍّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ )  أحمد )

Mafhumnya : Abu Zar R.A. mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Puasa pada bulan sabar (bulan Ramadhan) dan tiga hari tiap-tiap bulan bagaikan berpuasa sepanjang tahun”. (H.R. Ahmad)

Memanglah, hanya orang yang tidak mengerti sahaja yang tidak menikmati puasa. Mungkin ia hanya melihat daripada sisi tidak makan dan tidak minum sahaja, terlupa buahnya yang manis, lazat dan berharga ; iaitu yang akan menjadikannya sebagai seorang yang penyabar.

  1. Puasa Membuat Diri Kita Gembira.

Satu lagi kenikmatan yang kita rasakan daripada berpuasa, iaitu mendapatkan kegembiraan di hati. Kita akan gembira apabila apa yang kita kehendaki tercapai. Umpamanya, kita ingin membangun sebuah rumah yang besar dan selesa. Kita mula membangun rumah semenjak usia muda. Tidak berapa lama kemudian rumah yang kita ingini itu pun siap terbina. Alangkah gembiranya rasa di hati. Bertambah kegembiraan apabila yang kita kehendaki itu adalah juga yang dikehendaki oleh semua ahli keluarga. Begitu pula dengan puasa yang kita lakukan. Kita ingin puasa itu sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah. Kita mulakan dengan menahan (imsak) semenjak fajar belum terbit sehinggalah matahari terbenam. Alangkah gembiranya rasa di hati apabila masa berbuka (ifthar) telah tiba, kerana menunjukkan puasa itu berjaya disempurnakan. Dan kegembiraan itu akan berulang dan bertambah lagi apabila dapat menikmati manfaat puasa tersebut di akhirat kelak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ فِي الدُّنْيَا عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ فِي الآخِرَةِ  ( أحمد )

Mafhumnya : Diriwayatkan daripada Abu Hurairoh R.A bahawa Rasulullah bersabda :”Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan ; kegembiraan di dunia ketika berpuasa dan kegembiraan di akhirat”. (H.R Ahmad)

Dan apabila dilihat daripada manfaat puasa pula maka manfaatnya sungguh besar sekali, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ( الترمذي )

Mafhumnya : Diriwayatkan daripada Abu Hurairoh R.A bahawa Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya Tuhanmu berfirman :”Setiap perbuatan baik balasannya 10 perbuatan baik yang seumpama dengannya, sehingga 700 kali ganda. Puasa itu bagi-Ku dan Aku yang akan membalasnya “. (H.R At-Tirmizy)

Maka, hati siapa yang tidak gembira dengan berpuasa. Itulah mengapa kita menikmati puasa, sebab ia boleh membuat diri kita gembira ; gembira ketika berbuka di dunia dan gembira ketika bertemu Allah di akhirat, dan juga gembira kerana manfaatnya sangat besar sekali.

  1. Puasa Menghapuskan Dosa Kita.

Kenikmatan lain yang kita rasakan daripada berpuasa adalah kemudahan dalam menjalani hidup. Hidup yang dijalani terasa ringan. Orang melihat pekerjaan yang kita lakukan terlalu berat, tetapi kita merasakan sebaliknya, ringan dan mudah. Mungkin hal itu ada kena-mengena dengan dosa yang diampuni (dihapuskan), kerana dosa merupakan salah satu perkara yang memberatkan kehidupan, Allah berfirman tentang Rasulullah yang telah diampuni sekalian dosa sehingga beban tidak terasa lagi, meskipun pekerjaan yang dilakukan oleh Rasulullah nampak berat bagi orang lain :
Artinya :” Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (91) Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu(2) yang memberatkan belakangmu?”. (Q.S. Asy-Syarhu : 1-3)

Ayat ini menerangkan bahawa Allah telah menghapuskan dosa-dosa Rasulullah yang merupakan beban yang memberatkan belakang baginda. Dengan itu maka ringanlah kewajiban dijalankan, mudahlah pekerjaan dilaksanakan. Dan sebagaimana yang telah diketahui bahawa puasa adalah di antara ibadah yang boleh menghapuskan dosa, Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ( البخاري )

Mafhumnya : Diriwayatkan daripada Abu Hurairoh R.A bahawa Rasulullah SAW bersabda:”Sesiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (H.R. Al-Bukhary)

Ini pulalah yang membuat kita tidak merasa berat untuk berpuasa, bahkan merasa suka-cita, apalagi apabila Ramadhan  tiba, sebab mendapat kesempatan untuk menghapuskan dosa yang akan membebankan badan, fikiran dan jiwa kita.

  1. Puasa Menjauhkan Diri Kita Daripada Api Neraka.

Kita menikmati puasa kerana ia boleh menjauhkan kita daripada api neraka. Lapar dan dahaga tidak mampu menghambarkan kenikmatan kita terhadap puasa, kerana keselamatan diri daripada api neraka adalah tumpuan utama di dalam hidup kita. Pastinya kita tidak akan merasa hambar dengan pagar besi besar yang ditegakkan di sepanjang jalan, kerana kita tahu bahawa pagar tersebut adalah yang menyelamatkan jiwa kita daripada tercampak dan terjunam ke dalam lembah yang dalam. Yang menjadi tumpuan kita adalah keselamatan, bukan pagar yang menghalang pandangan. Demikian pulalah dengan puasa yang dilakukan. Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي الله عَنْهم قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ بَاعَدَ اللهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا ( مسلم )

Artinya : Diriwayatkan daripada Abu Said Al-Khudry RA. bahawa ia mendengar Rasulullah bersabda : “ Sesiapa yang berpuasa di jalan Allah maka Alah akan menjauhkannya daripada api neraka sejauh perjalanan 70 musim”. (H.R. Muslim).

  1. Puasa Memasukkan Kita Kedalam Syurga.

Selanjutnya di antara kenikmatan puasa yang kita rasakan adalah manfaatnya yang besar kelak, iaitu memasukkan kita ke dalam syurga. Kita akan dipersilakan untuk masuk ke dalam  syurga melalui salah satu pintunya yang istimewa, iaitu yang bernama Ar-Rayyan. Ar-Rayyan adalah pintu syurga sebagai tempat masuk orang-orang yang berpuasa. Sesiapa yang memasuki syurga melalui pintu tersebut tidak akan pernah merasa dahaga selama-lamanya, Rasulullah bersabda :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَبَابًا يُدْعَى الرَّيَّانَ يُدْعَى لَهُ الصَّائِمُونَ فَمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِمِينَ دَخَلَهُ وَمَنْ دَخَلَهُ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا ( الترميذي )

Artinya : Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’ad R.A. daripada Rasulullah SAW bahawa baginda bersabda :”Sesungguhnya di syurga itu ada sebuah pintu yang dipanggil Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan dipanggil untuk masuk melalui pintu tersebut. Maka sesiapa daripada golongan orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut, dan sesiapa yang melaluinya maka tidak akan merasa dahaga selama-lamanya”. (H.R. At-Tirmizy)

Untuk dapat memasuki syurga melalui pintu Ar-Rayyan adalah di antara pendorong yang membuat kita menikmati puasa, bukan menikmatinya daripada sisi hawa nafsu, tetapi daripada sisi keimanan dan keyakinan yang akan kita dapatkan.

  1. Puasa Merupakan Persembahan Kita Kepada Zat Yang Sangat Kita Cintai.

Satu lagi perkara mengapa kita menikmati puasa, iaitu puasa yang kita lakukan adalah persembahan kita kepada Zat Yang Sangat Kita Cintai, iaitu Allah Subhanahu wata’ala. Apabila seseorang bekerja sebagai persembahan untuk kekasih yang sangat ia cintai maka sudah pasti ia akan suka melakukannya, kerana orang yang mencintai dengan ikhlas akan berkorban apa sahaja tanpa sedikit pun merasa berat di hati. Pengorbanan itu adalah sebagai  bukti cinta yang sejati. Begitu pulalah ketika kita berpuasa. Kita ingin menjadikannya sebagai bukti cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sesungguhnya Allah adalah yang paling kita cintai daripada segalanya, lebih daripada ayah dan ibu kita sendiri bahkan lebih daripada diri kita sendiri. Inilah yang membuat kita menikmati puasa. Tambah lagi firman Allah dalam sebuah hadis membuat diri kita menjadi suka dan cinta :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

( البخاري )

Mafhumnya : Rasulullah SAW bersabda :”Allah berfirman :” Setiap amalan anak Adam itu bagi dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku yang akan membalas kebaikannya”. (H.R. Al-Bukhary)

Bermakna :”Puasa merupakan persembahan kita kepada Allah Yang Sangat Kita Cintai”. Dan hadis yang lain Allah memuji persembahan kita ini dengan berfirman :

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ( أحمد )

Artinya : Rasulullah bersabda :” Tuhan-mu Azza Wa Jalla berfirman : ”Hamba-Ku telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumannya untuk mendapatkan keredhoan-Ku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku yang akan membalas kebaikannya”. (H.R Ahmad)

Demikianlah beberapa kenikmatan yang kita rasakan ketika menjalankan ibadah puasa. Alangkah ruginya diri manusia apabila puasa yang dilakukan hanya mendatangkan lapar dan dahaga tanpa merasakan kenikmatan apa-apa, padahal berbagai kenikmatan banyak di dalamnya. Rasulullah memperingatkan :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ( أحمد )

Artinya : Rasulullah SAW bersabda :”Berapa banyak orang yang berpuasa yang bahagiannya daripada puasa itu hanyalah lapar dan dahaga sahaja”. (H.R. Ahmad)

Hadirin yang berbahagia,

Berdasarkan keimanan dan pengalaman, sesungguhnya puasa adalah ibadah yang penuh dengan kenikmatan. Maka tidak hairanlah para nabi, para ulama, orang-orang beriman, dan orang-orang yang berilmu suka melakukan puasa ; sama ada puasa fardu ataupun puasa-puasa sunat. Bagi mereka berpuasa adalah salah satu cara menikmati hidup. Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan puasa bagi orang-orang beriman dan meletakkan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya. Allah berfirman : “Maka  sesiapa di antara kamu ada  yang  sakit   atau  dalam  perjalanan  (lalu ia berbuka),  maka  (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (iaitu): memberi makan seorang miskin. Sesiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.(Q.S.Al-Baqoroh: 184)

Ayat ini menerangkan bahawa apabila sanggup untuk berpuasa maka usahakanlah untuk berpuasa, meskipun telah dibenarkan untuk tidak berpuasa disebabkan kerana sakit atau dalam perjalanan, kerana dalam berpuasa akan mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang sangat tingi sekali nilainya.  Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Minggu, Juni 4th, 2017

“Ramadhan Bulan Evaluasi”

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Hadirin yang dimulyakan Allah

Kita tahu dan menyadari bahwa setiap tahun, umat muslim di seluruh dunia menjalankan suatu ibadah yang dilaksanakan selama sebulan penuh. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa ibadah yang satu ini memang merupakan ibadah yang paling khas diantara ibadah lainnya. Ibadah itu adalah Puasa Ramadhan, rukun Islam keempat yang memiliki keunikan tersendiri. Ibadah puasa memang memiliki nilai eksklusivitas ketika ia dinisbatkan secara langsung kepada Allah dalam hal pahalanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsy :

Artinya : “ sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya’ “.  ( Sahih Muslim no. 1945 ).

Lantas apakah yang membuat ibadah yang satu ini begitu unik sehingga pahalanya tidak konvensional sebagaimana ibadah lainnya ? Apakah signifikansi dari bulan suci yang penuh berkah ini ?

            Sesuai dengan makna dasarnya, al-Imsak yang  berarti menahan, sejatinya dalam ibadah puasa ini terkandung suatu esensi yang edukatif, yaitu pengendalian diri (self controlling). Prosesi ibadah puasa dengan menahan diri dari makan dan minum dan segala hal lainnya yang membatalakan puasa sejak terbit matahari hingga terbenam, memberikan proses edukasi kepada umat Islam. Pertama, puasa mendidik umat Islam untuk bisa mengendalikan diri dari nafsu material, yakni makan, minum dan aktivitas seksual. Akan tetapi dalam ibadah puasa Ramadhan ini, terdapat satu hal yang jauh lebih penting dari hanya sekedar aktifitas lahiriah. Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya :

Artinya :  “Tidak sedikit orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain hanya rasa lapar saja” (Sunan Ibn Majah no. 1680)

Dengan demikian, sejatinya misi utama ibadah puasa adalah pembinaan jasmani dan rohani. Bagaimana agar kita terbiasa mengontrol hati, ucapan dan perbuatan untuk mencapai suatu harmonisasi yang mencerminkan insan yang beriman dan bertakwa. Bulan ini merupakan momentum di mana seluruh aktifitas umat Islam sebisa mungkin harus dihiasi dengan berbagai amal kebajikan dan suatu ajang yang mengajari mereka untuk terbiasa membenci kebencian dan menjauhi kejahatan. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

Artinya : “ … dan jika salah seorang diantara kamu sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan bertengkar, jika ada orang lain yang mencaci atau mengajaknya bertengkar, katakanlah : ‘aku sedang berpuasa’… “(Sahih Bukhari 1771)

Selain bulan edukasi, Ramadhan juga merupakan bulan evaluasi keimanan seorang muslim di dunia nyata. Hal inilah yang membuat pahala puasa menjadi sangat privat antara Allah dan orang yang berpuasa itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsy di atas. Keimanan seorang muslim yang pada dasarnya adalah komitmen komprehensif terhadap apa yang diyakininya akan diuji di bulan Ramadhan. Jika keimanannya kuat, maka ia akan senantiasa melaksanakan amaliyah ibadah puasa dengan penuh ketulusan hati dan kesadaran bahwa Allah akan senantiasa mengawasi gerak langkahnya.

Tidak dipungkiri lagi bahwa bulan Ramadhan sejatinya merupakan klinik spiritual umat Islam. Aktivitas rohani berupa ibadah ritual dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya memberi kita banyak “bonus”. Di siang hari, ritual al-Imsak / menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak matahari terbit sampai terbenam, sepenuhnya merupakan bentuk ibadah. Memasuki malam hari, berbagai ritual lain seperti shalat tarawih, tadarus, dsb. kian menambah kebugaran spiritual kita. Apa hikmah terselubung dibalik klinik rohani yang kaya akan bonus ritual-spiritual ini ?

Hadirin yang berbahagia

Mari kita berefleksi sejenak, mengapa Allah mewajibkan suatu ibadah yang di dalamnya diisi dengan menahan diri dari makan dan minum ?. Di samping memiliki nilai edukatif terkait pengendalian diri, kedisiplinan dan kesabaran, ibadah semacam ini juga memberi kita suatu kesadaran sosial terhadap fenomena di sekeliling kita. Dengan ritual menahan lapar dan haus, sejatinya Allah mengajari kita untuk lebih peka sosial, bahwa masih banyak saudara kita yang  hari-harinya senantiasa dihantui dengan rasa lapar dan haus semacam itu. Dalam hal ini Rasulullah telah memberikan tuntunan bagi kita untuk senantiasa berbagi di bulan Ramadhan :

Artinya :“Nabi saw. ditanya: …. sedekah apakah yang paling utama ?, beliau bersabda: ‘sedekah di bulan ramadhan’”. (Sunan Tirmidzy no. 599)

Selebrasi sosial bulan Ramadhan semakin terasa ketika menjelang hari raya. Dalam hal ini zakat fitrah menjadi penutup Ramadhan sebagai tanda sahnya puasa. Dengan demikian, selebrasi hari kemenangan ditandai dengan selebrasi sosial dalam zakat fitrah. Demikianlah bagaimana Islam menghendaki revolusi ritual menuju kesadaran sosial. Dengan demikian, Ramadhan mengajari kita akan arti penting kehadiran kita di alam fana ini, bukan hanya memperjuangkan diri sendiri, namun kita juga ada untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.

Refleksi yang mendalam tehadap arti penting ibadah puasa Ramadhan membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa ibadah puasa sama sekali berbeda dengan melaparkan diri. Ketika berat badan seseorang turun karena puasa, hal itu tidak jauh berbeda dengan diet biasa .Namun di balik itu, terdapat nilai-nilai lainnya yang terselubung dalam ibadah puasa Ramadhan. Karakter edukatif Ramadhan yang dihiasi dengan intensitas ritual dalam “klinik rohani” dan diakhiri dengan selabrasi sosial di hari kemenangan, sejatinya merupakan bekal bagi kita untuk bermetamorfosis menuju arah lebih baik. Semoga bermanfaat, terimakasih atas perhatiannya.

Waasalamu’alaikum Wr. Wb

Laman Berikutnya »