Rabu, Juni 7th, 2017...1:29 am

HARTA BANYAK TIDAK MENJAMIN

Jump to Comments

 

Assalamu’ alaikum Wr.Wb

Hadirin yang dimulyakan Allah

Seorang bapak yang berpenghasilan 9 Juta dalam satu bulan umpamanya, ia sudah dapat dianggap mampu untuk menghidupi istri dan dua atau tiga orang anaknya, yang masih sekolah menengah maupun pelajar di Universitas. Namun hal ini boleh terjadi apabila sang bapak mendapatkan gaji atau penghasilannya daripada rezki yang baik dan halal, kerana inilah yang menjadi kunci utamanya.

Dalam keluarga seperti ini, sang ibu juga ikut mengambil peran dalam mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangga, ia lebih berfikir untuk mengutamakan yang terpenting dalam kelangsungan hidup anggota keluarga. Pendidikan anak-anak menjadi prioritas setiap anggota keluarga, kerena ialah yang akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang.

Orang tua mestilah mengajarkan anak-anak untuk hidup dalam kesederhanaan, tidak terpedaya dengan ajakan kawan-kawan yang selalu mengajak untuk hidup glamor dan berhura-hura, menghabiskan masa muda dengan kemewahan yang mereka itu tidak layak untuk menjalaninya.

Dengan perhatian orang tua semacam ini, maka tidak mustahil daripada keluarga semacam ini pulalah akan tumbuh dan lahir generasi-generasi yang cemerlang, berakhlak mulia dan berprestasi, anak-anak yang boleh dibanggakan oleh kedua orang tua, bangsa dan agamanya. Maka, hal ini boleh kita katakan sebagai suatu berkah daripada rezki yang baik dan halal, yang didapat oleh orang tua dalam menafkahi keluarganya.

Lain halnya dengan seorang bapak yang berpenghasilan puluhan juta, dalam setiap bulannya, namun ia mendapatkannya dengan cara yang buruk dan haram, sama dengan mengambil hak orang lain dengan penuh kezaliman, dan biasanya ia tahu bahwa itu merupakan suatu pencurian dan penindasan terhadap hak milik orang lain. Kadangkala ia bangga dengan harta yang dipakai dan dimakannya, ia tampak begitu angkuh dan sombong diatas penderitaan ribuan orang yang hak milik mereka dirampas dan dicuri.

Nah, apabila kita melihat dalam realitas kehidupan keluarganya, ternyata sang bapak tetap tidak merasa cukup dengan harta yang telah didapatkannya. Dalam kesehariannya, ia tetap dalam memikirkan biaya yang mesti dikeluarkan setiap hari dan bulannya. Uang dengan penghasilan yang ada tidak cukup untuk menghidupi satu orang istri dan dua orang anaknya, padahal hasil curiannya lebih besar daripada gaji yang semestinya ia terima.

Hadirin yang berbahagia

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini tidak segan-segan untuk meminta uang belanja yang sangat besar. Mereka akan menggunakan tipuan dan kebohongan demi mendapatkan uang bapaknya. Ia seolah-olah hendak menguras habis harta orang tuanya, mulai daripada uang belanja motor, handphone, membeli-pakaian dengan mengikuti trand terbaru, dan lain sebagainya dalam kos yang sangat tinggi dan mahal.

Biasanya, sang ibu juga tidak mau ketinggalan daripada sang bapak dan anak-anak mereka, pelbagai koleksi pakaian dan perlengkapan rumah tangga tidak henti-henti dibeli, apalagi apabila sang suami seorang kakitangan kerajaan maupun korporat, yang mesti sering menghadiri pelbagai acara rasmi maupun tidak rasmi. Ia tidak mahu apabila orang lain melihat dan memperkatakan tentang dirinya, bahwa ia memakai pakaian yang sama dalam dua acara yang berbea, meskipun baru berjarak satu bulan saja.

Suami dengan pendapatan yang banyak, tidak tertutup kemungkinan juga untuk mencari kesenangan pribadi dan sesaat diluar rumah, ia sangat mudah sekali terpedaya dengan bujukan dan godaan rakan-rakannya yang lebih dahulu telah mencuba kehidupan maksiat.  Ia mulai berkenalan dengan wanita lain, dan menjalani hidup bersama dibawah satu atap tanpa ikatan perkahwinan. Kerana memang, manusia itu tidak akan pernah merasa puas terhadap godaan harta, tahta dan wanita apabila cobaan ini datang kepadanya.

Bukan itu saaja, dengan uang ia berfikir boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan akibat dan resiko yang akan menimpanya. Umpanya, ia tidak lagi senang melihat muka istri dan penampilannya, ia merasa tidak nyaman apabila berada dan bermalam dirumahnya sendiri, maka ia sangat berhasrat untuk memiliki istri simpanan dan membelikannya sebuah rumah ditempat yang lain pula.

Maka, ibarat kata pepatah, “sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, lama-lama pasti akan tercium juga”. Maka dari sinilah mulainya malapetaka dalam sebuah rumah tangga, sang istri mulai curiga dengan tingkah laku sang suami, terutama setiap kali pergi keluar rumah dipagi hari, sampai ketika sang suami tidak lagi tidur di rumah pada malam harinya. Tidak lama setelah itu, tercium juga apa yang diperbuat sang suami di luar rumah, maka muncullah pertengkaran, pergaduhan antara suami dan istri, tidak menutup kemungkinan pula terjadinya perceraian, atau bahkan saling membunuh dengan alasan mempertahankan harga diri mereka masing-masing.

Anak-anak yang sudah terbiasa hidup mewah dan memiliki uang yang banyak, mereka biasanya tidak tertarik untuk masuk dalam pergaduhan antara kedua orang tua mereka. Perkara apakah orang tua mereka akan bercerai, memiliki istri simpanan, memiliki suami simpanan, mereka tidak mau peduli. Yang penting bagi mereka adalah, segala keperluan mereka boleh dipenuhi oleh orang tua mereka, dapat memiliki wang yang banyak, dan kemudian berfoya-foya dalam menghabiskannya.

Hadirin rohimakumullah

Disini, berlakulah sunnatullah (ketentuan Allah) tersebut, apabila orang tua dengan mudah mendapatkan hartanya, tetapi dengan cara yang haram, maka anak-anakpun dengan mudah pula untuk menguras dan membelanjakan hartanya, sama dengan cara baik, apatah lagi dengan cara yang haram, seperti terbabit dalam berbagai kes dadah, kriminal, dan tidak sedikit pula daripada mereka yang terjerumus kedalam jurang hitam kemaksiatan.

Demikianlah perumpamaan antara harta yang didapat dengan cara yang baik dan halal, maka ia akan dibelanjakan kepada yang baik dan halal pula, maka jadilah ia rezki yang penuh dengan berkah bagi seisi keluarga. Sebaliknya, ketika harta itu didapat dengan cara yang buruk dan haram, maka ia juga akan dibelanjakan kepada yang buruk dan haram pula, maka jadilah ia rezki yang buruk dan haram serta sangat jauh daripada berkah Allah. Bahkan, tidak jarang daripada harta haram ini menjadi bomerang bagi pemiliknya, lambat ataupun cepat, ia akan membinasakan mereka di dunia, dan menyiksa mereka di akhirat. Naudzubillahimindzalik. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum wr wb

 

 



Leave a Reply